Jumat, 05 April 2019

[Puisi] SANG BINTANG

Patah..
Tertatih..
Menaiki sudut berliku..
Menjejali setiap siku..

Bercucuran..
Bertaburan..
Kumpulan asam tak berguna..
Gabungan senyawa racun..

Mengeluh..
Bersemangat..
Hati komat-kamit..
Pikiran campur aduk..

Detik terus berlalu
Terus bertanya 'kapan akhirnya?'
Sebuah candaan bohongan jadi penyemangat
Tak disangka, kita telah di puncak

Pendakian bukit,
Penelusuran hutan,
Penjejakan gunung,
Napak tilas alam dan belantara,
Kita berpesta di akhir perjalanan..

Terlelap dibawah bentangan karpet gelap
Dihiasi jutaan cahaya kerlap
Berselimut udara tebal
Pejamkan dan nikmati keindahan alam
Kembangkan! Kembangkan senyum setelah penantian panjang
Kita tak kan pernah berhenti berjuang

Bintang...
Dirimu indah sekali
Menyinari bumi
Memerangi cahaya hati
Bintang...
Bersinarlah terang
Dengan tulus
Tanpa pamrih

-Ditulis dalam mengenang pendakian
-Bersama teman, berjuang, 2014

Kamis, 04 April 2019

Aku, Kamu dan Setiap Orang Bertanggung Jawab Melestarikan Hutan

Ayo siapa yang suka nonton serial yang ditayangkan di Trans 7 dengan nyanyian pembukanya ;
Bolang si Bolang...
Si Bocah Petualang
Kuat kakinya seperti kaki kijang
Hap... Hap... Hap... Hap... Hap...

Ayo ngaku! Hehe. Aku suka loh! Sejak kecil aku bersama dua adikku selepas pulang sekolah suka menonton tayangan positif ini. Apalagi nontonnya sambil makan siang. Nikmaaat!

Kami bertiga suka menonton ini karena menayangkan petualangan seru seorang anak kecil sekitar umur 5 hingga 12 tahun di desanya. Ia tak sendiri, biasanya ditemani dengan kawan-kawan. Mereka melakukan kegiatan seru yang biasa mereka lakukan, seperti memancing, berenang atau menjala ikan di sungai, berburu di hutan, memanjat pohon, bernyanyi sambil bermain musik, mencari buah yang bisa dimakan, bahkan memasak dan membuat karya seni bersama ibu-ibu di desa tersebut. Tontonan ini bagus sekali bagi anak-anak Indonesia karena menampilkan keindahan dan kekayaan alam negeri ini. Terutama bagi kami yang tinggal di kota dan jarang merasakan suasana alam seperti mereka. Bisa, tetapi saat pulang kampung ke rumah nenek saja setahun sekali.

Aktivitas anak-anak yang ditayangkan oleh Si Bolang Trans 7 ini kebanyakan dilakukan di hutan. Menurut KLHK (2018), hutan adalah suatu wilayah dengan luasan lebih dari 6,25 ha dengan pohon dewasa lebih tinggi dari 5 meter dan tutupan kanopi lebih besar dari 30%. Kita dapat menemukan banyak hutan di sepanjang daratan Indonesia. Terbentang dari sebelah barat hingga timur, begitupun dari utara hingga selatan. Indonesia terletak di garis khatulistiwa dengan memiliki 2 musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Pengaruh musim ini menunjukkan keanekaragaman hutan yang ada di Indonesia.
Temen-temen pastinya akrab dong dengan kata 'hutan', even tinggalnya di kota-kota besar. Jika kita sedang berkeliling, kita dapat melihat hutan kota, seperti Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu yang ada di Palembang atau TWA Angke Kapuk di Jakarta. Menurut Dishut Provinsi Jawa Barat, jenis-jenis hutan di Indonesia berdasarkan terbentuknya terdiri dari :
1. Hutan alam, yaitu suatu lapangan yang bertumbuhan pohon-pohon alami yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya. Hutan alam juga disebut hutan primer, yaitu hutan yang terbentuk tanpa campur tangan manusia.
2. Hutan buatan disebut hutan tanaman, yaitu hutan yang terbentuk karena campur tangan manusia.

Forest Talk with Bloggers Palembang
Sebuah yayasan bernama Yayasan Doktor Sjahrir menggelar acara bincang-bincang, diskusi dan mengadakan mini-exhibition hari sabtu lalu, 23 Maret di Kuto Besak Theater Restaurant, dengan tema "Menuju Pengelolaan Hutan Lestari". Kegiatan ini sangat menarik untuk diikuti oleh para blogger Palembang, pihak media dan kompasianer untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang menjaga lingkungan dan kelestarian hutan. Acara ini dipandu oleh Amril Taufik Gobel dan dengan pembicara pertama, Dr. Amanda Katili Niode, Manager The Climate Reality Project Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa  kegiatan manusia yang berlebihan berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim.

Sebuah langkah sederhana untuk mengurangi emisi gas pada atmosfer di bumi ini ialah mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai atau sering dikenal kantong asoi / kresek. Tanpa kita sadari, setiap kita belanja di warung dekat rumah, swalayan dan supermarket pastinya pulang dengan membawa kantong plastik. Tahukah kamu bahwa plastik adalah bahan yang sangat sulit diurai menjadi bentuk yang lain? Maka dari itu, untuk tetap menikmati udara segar dan tidak menambah jumlah sampah plastik di laut dan sungai, marilah kita sedikit demi sedikit mengurangi penggunaan kantong plastik dengan cara membawa tas belanjaan sendiri dari rumah. Tas yang terbuat dari anyaman atau tottebag yang lucu dan cantik.

Back to Forest again nih. Hutan dapat mengalami konversi dalam skala besar dan skala kecil. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Atiek Widayati (Tropenbos Indonesia) dalam paparannya yang menyebutkan konversi hutan skala kecil berupa penebangan/pembalakan hutan untuk tanaman, seperti pohon akasia dan sawit. Konversi hutan skala kecil berupa pembukaan lahan yang biasa dilakukan oleh warga untuk membuka kebun, ladang dan pertanian lahan kering. Terus kenapa dong kalau terjadi konversi hutan? Itu berdampak pada berkurangnya biomasa vegetasi (penyerapan gas C dari karbondioksida) sehingga kita merasakan kian hari bumi makin panas. Betul kan?

Masih ingetkah kamu pada tahun 2015 terjadi kebakaran hutan hebat di Indonesia? Kejadian buruk dimana kita tidak bisa menghirup udara segar, keluar rumah pakai masker dan aktivitas luar menjadi terbatas. 7 provinsi mengalami kabut asap mulai dari Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Papua. Penyebabnya ialah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) baik di hutan rawa gambut maupun hutan hujan tropis. Hampir 98% kebakaran hutan terjadi akibat kegiatan manusia, sisanya kecil terjadi secara alamiah. So, untuk mencegah masa lalu yang buruk terulang lagi, marilah kita mengembalikan fungsi hutan seperti sedia kala melalui pengelolaan lanskap berkelanjutan. Beberapa hal yang dapat kita lakukan yaitu :
1. Mendukung hasil hutan bukan kayu
2. Pemanfaatan jasa ekosistem (hutan)
3. Mendukung ekonomi masyarakat tepi hutan
4. Mendukung produksi kayu berkelanjutan

Cerdas dan Kreatif dalam Mengelola Sumber Daya Alam

Jalan-jalan ke hutan, lihat apa saja sih? Anak kecil aja bisa jawab. Lihat pohon, burung, bunga, monyet, akar, rotan, rumput, semak, ular, lumut, buah-buahan, dan banyak lagi. Berbagai sumber daya alam yang ada di hutan dapat kita manfaatkan dan diperdayakan untuk mewujudkan ekonomi kreatif. Warga desa umumnya yang tinggal dekat dengan hutan biasa memanfaatkan hasil hutan untuk memasak, mengobati penyakit, membuat anyaman tikar, bambu, topi, dll. Hasil hutan itu juga dapat dijual kepada pembeli dan meningkatkan penghasilan warga, terutama ibu-ibu. Saat ini, pemerintah telah membentuk sebuah badan yang bertugas memberdayakan hasil alam dan membuat hal yang bermanfaat dari kearifan lokal setempat. Badan tersebut merupakan Badan Usaha Milik Desa, disingkat dengan BUMDes. Pemerintah melalui Kementerian Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi terus berupaya membangun dan mendukung kegiatan pengelolaan hutan adat dan desa, industri pariwisata dan pengembangan produk unggulan lokal.

Ir. Murni Titi Resdiana, MBA (Kantor Utusan Khusus Presiden Bidang Pengendalian dan Perubahan Iklim) menjelaskan tentang kebermanfaatan pohon untuk ekonomi kreatif berupa :
1. Pohon sebagai sumber serat
2. Pohon sebagai sumber pewarna alam
3. Pohon sebagai bahan kuliner
4. Pohon sebagai sumber furniture
5. Pohon sebagai sumber barang dekorasi
6. Pohon sebagai sumber minyak atsiri

Desa Makmur Peduli Api

Desa Makmur Peduli Api (DMPA) ialah desa yang tinggal berjarak 3 kilometer dari APP Sinarmas. Janudianto dari Corporate Social and Security Division Asia Pulp and Paper (APP) Sinarmas bercerita dan memberitahu tentang minimnya pengetahuan warga desa dalam mengelola hutan. Mereka yang belum memiliki edukasi tentang bahaya pembukaan lahan dengan cara membakar hutan diajak dan dirangkul bersama untuk lebih peduli terhadap api, yang dikenal dengan program Desa Makmur Peduli Api ini. Sebanyak 284 desa di 5 provinsi di Indonesia, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur merupakan Desa Makmur Peduli Api. Mereka diberikan pelatihan tentang pengendalian api, pengelolaan hasil ternak, kebun dan sawah. Selain itu, mereka yang memiliki potensi pariwisata di desanya didukung oleh APP Sinarmas untuk mendirikan spot pariwisata sebagai peningkatan pendapatan desa. Sejauh ini sudah dibangun 5 spot pariwisata dan kedepannya akan terus dikembangkan.

Mini Exhibition Produk Alam Lokal

Disini terdapat beberapa stand yang menampilkan dan memajang produk-produk olahan kayu, pohon dan hasil tanaman dari berbagai daerah. Ada Mellin Galery memproduksi dan menjual gantungan kunci dan tas dari kayu jati dan kayu lainnya. Ada Galeri Wong Kito dengan produk andalan pewarnaan alam gambo moeba, pewarnaan ecoprint dengan menggunakan daun dan menjual kain jumputan. Ada pula produk desa binaan dari APP Sinarmas menjual olahan makanan dari ubi kayu, pisang, abon dan jahe merah. Nah, sayang sekali di kesempatan emas ini tidak icip-icip hasil produk lokal atau lihat-lihat kain jumputan cantik dari koleksi mini exhibition ini. Jangan lupa beli ya! Hehe.

Galeri Wong Kito mengajarkan kami teknik perwarnaan alami menggunakan daun dan bahan pendukung lainnya. Disini mba Anggi dengan sabar menunjukkan cara membuat kain polos jadi cantik dengan pewarnaan dari daun jati, baik yang muda maupun tua dengan cara dipukul. Kami belajar bersama dan mendapatkan ilmu baru.

Demo Masak Olahan Hutan

Para audiens kebanyakan kaum hawa yang hobi makan, eh masak. Kaum adam juga antusias belajar resep dari chef yang mengajarkan cara mengolah jamur dengan baik agar jadi masakan yang sedap. Mushroom in Paradise merupakan olahan berbagai jamur yang digoreng dan dimakan dengan saus. Chicken Wing Saos adalah sayap ayam yang dilumuri tepung terigu dan digoreng jadi masakan yang enak. Wahhhh... Setelah dicicip, ternyata enak banget dan bikin nagih!

Intisari

So, mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri dan mulai dari yang terkecil. Mulailah untuk mengembalikan fungsi hutan, mengurangi penggunaan kantong plastik, mendukung hasil hutan bukan kayu, mendukung ekonomi kreatif lokal, stop membakar hutan, membeli produk unggulan lokal dan jangan lupa menanam dan merawat pohon di sekitar kita. Bukan tidak mungkin untuk berpuluh tahun ke depan kita masih ingin anak dan cucu kita menikmati udara segar, lingkungan asri, tidak polusi dan masih dapat merasakan manfaat hasil hutan dengan melakukan perubahan sejak dini. Ajak orang-orang di sekitar kita untuk lebih peduli dengan lingkungan tanpa mengenal latar belakang individu tersebut. Aku, kamu dan setiap orang harus bertanggung jawab ya mewarisi harta yang paling berharga berupa kekayaan alam yang harus tetap dijaga. Salam Lestari. Cintai Negeri Ini!

Note : 
Bagi yang penasaran  dengan Yayasan Doktor Sjahrir bisa explore lebih dalam website http://yayasandoktorsjahrir.id/

This writing contribute to http://lestarihutan.id/

Rabu, 13 Maret 2019

Nagoya Oh Nagoya

Batam adalah kota yang terdapat didekat Singapura, Malaysia dan Pekanbaru. Kota Batam merupakan kumpulan pulau-pulau yang ada disekelilingnya seperti Bintan, Tanjung Pinang, dan lainnya membentuk sebuah provinsi yaitu Provinsi Kepulauan Riau. Jika dari Palembang, kita dapat menempuh jarak kurang lebh sejam perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang via Citilink atau LionAir di pagi hari mulai pukul 6.10,  7.30 dan 8.35. Penerbangan dapat langsung ataupun singgah/transit sebentar dengan harga mulai dari Rp 633.000 dengan penerbangan setiap hari.

Menuju Batam

Kota Batam merupakan kota yang tidak seluas kota Palembang. Hehehe. Luas pulaunya hanya 715 km persegi. Kami berangkat pagi dengan menggunakan Citilink pagi hari dari Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport (IA), Palembang dan suasana kursi penumpang 80% penuh. Lalu tiba sekitar pukul 9 lewat di Hang Nadim IA dan bandara ini pun luasnya mungkin samadengan bandara di Palembang. Tiba di bandara, kami langsung menaiki bus angkutan yang sudah dipesan dan berjalan menuju hotel. Hotel kami berada di kawasan pelabuhan Harbour Bay yaitu Hotel Zest.

Tiba di hotel Zest sekitar pukul 11 siang dan langsung check in kamar-kamar yang akan dihuni. Setelah selesai, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Mall Nagoya Hill. Judulnya ku buat seperti itu karena teman-teman bilang "Na.. Goyang." Hahaha.

Sejujurnya, saya belum pernah sama sekali ke Batam jadi ini adalah pengalaman pertama yang tak terlupakan. Selama ini saya hanya tahu kota Batam dengan ikon Jembatan Barelang, Welcome to Batam-nya, tas-tas koleksi Batam dan peralatan elektronik yang katanya bisa beli murah dibanding kota-kota lain di Indonesia. Nah, setelah sampai dan menginjakkan kaki di kota Batam, wagelaseh! Ternyata kita bisa beli tas-tas cantik, parfum, oleh-oleh coklat, souvenir Singapur, Malaysia, dan Batam di Nagoya Hill ini.

Nagoya Hill

Masuk dari depan Mall Nagoya
Tempat ini terletak dikawasan komplek pertokoan dan hotel. So, letaknya strategis. Dari hotel kami memesan layanan taksi online Grab untuk mengantar kami kesana. Sayangnya, mba supir Grab rada takut karena daerah pelabuhan sudah ada taksi khusus berwarna kuning dan plat kuning memang dilegalkan nge-tem disana. Makanya agak gimana gitu yach, hehe. Namun mba ini dengan hebatnya bawa mobil Brio kedalem dan jemput kami. Dia orangnya ramah, cantik dan jilbaber nih.
Sesampai di Nagoya Hill, kami masuk dari pintu belakang dan berjalan menyusuri lantai 1, disini kami berkeliling melihat toko dan penjaja di selasar. Ada aneka tas, pakaian, sepatu, pernak-pernik, makanan, mainan anak, parfum dan lainnya. Ada beberapa toko menuliskan SALE artinya harga diskon. Nah, seneng banget nih bagi gue dan emak-emak dapet harga murah tapi kualitas oke. Haha.

Hotel Nagoya Hill
Suasana didalam mall






















Disini saya beli tas buat mama dan oleh-oleh buat temen-temen. Disini ada chatime dilantai 2. Berhubung ini perdana kesini. Jadi semua lantai di mall ini kami telusuri dan jelajahi. Pegel-pegel dah kaki. Biarin! Yang penting happy hehe. Untuk solat, ada mushola di lantai dasar dekat parkiran mobil dan toko jual handphone. Untuk turun tinggal pake eskalator saja, tidak jauh dari eskalator belok kanan dan kanan lagi, ikutin petunjuknya. Mudah kok.
Kami pergi kesini berempat, ada Yuk Catrin, Bu Mar, saya dan Yuk Ida. Semuanya pulang bawa tentengan! Yang paling banyak yah Yuk Ida. Dia beli tas 3, mainan anak banyak, oleh-oleh udah dicicil. Kalau saya ga usah ditanya ya. Masih single jadi belum banyak bawaan ini itu. Beli sepenting dan seperlunya saja. Kami pulang pukul 6 sore, lama yah? Iya. Hampir 6 jam jalan-jalan, liat-liat, beli ini-itu, ga makan, cuma solat, cuma beli minum, duduk-istirahat dan pulang.
Pulangnya kami harus memesan GoCar dari luar Nagoya Hill, ya harus jalan kaki keluar dan menyeberang sampai depan hotel diseberang mall yaitu Nagoya Hill Hotel. Kenapa? Karena Grabnya ga mau masuk dan dilarang kali. Bayarnya cuma Rp 17.000 dari Nagoya ke Hotel Zest.

Rabu, 13 Februari 2019

Seduh Kopi di Jagad Besemah Coffee Shop, Pagaralam

Pagaralam adalah kota sejuk yang berada di provinsi Sumatera Selatan. Kota ini memiliki banyak destinasi wisata alam, seperti Gunung Dempo, kebun teh, tangga 2001, villa gunung Gare dan kota bunga. Pagaralam dijuluki kota bunga karena wilayah ini memiliki banyak jenis bunga yang tumbuh segar dan lebat. Untuk menuju Pagaralam, anda bisa menempuh jarak 275 km dari Kota Palembang menggunakan transportasi darat berupa sewa mobil atau naik bus dengan perjalanan kurang lebih 6 jam 42 menit (Perkiraan Google Maps). Anda bisa juga terbang menggunakan pesawat dengan tujuan Bandara Atung Bungsu dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II.
Foto 1. Dokumentasi penulis, 2018

Setelah tiba di Pagaralam, anda akan disambut dengan cuaca yang dingin karena area ini memiliki suhu 25 derajat celsius. Berbeda dengan kota Palembang yang memiliki suhu diatas 30 derajat celsius. Jadi, jangan lupa membawa jaket/baju dingin, topi, syal, sarung tangan dan kaus kaki bagi anda yang tidak tahan dingin yah. Pagaralam merupakan kota yang memiliki Gunung Dempo sebagai wisata andalannya karena ini merupakan deratan Pegunungan Bukit Barisan. Berkeliling di kota Pagaralam bisa dengan menyewa mobil, naik motor atau naik angkutan umum. Melihat indahnya kebun teh dan kebun kopi, berkunjung ke air terjun/cughup, berwisata kuda, menjajal pendakian gunung hingga puncak atau sengaja datang untuk melihat event tertentu.
Foto 2. Dokumentasi penulis, 2018

Ngomong-ngomong soal kopi. Pagaralam terkenal dengan kopi hitamnya yang khas loh! Warga asli sini memiliki kebun kopi masing-masing yang dapat dipanen dan dijual sebagai penghasilan mereka. Kebanyakan warga Pagaralam bekerja sebagai petani atau berkebun sayur, buah dan kopi. Jika teh, ada perusahaan yang berdiri sejak masa penjajahan Belanda yang mengelola perkebunan teh, bernama PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) VII.

Nah, suguhan dan racikan kopi Pagaralam yang enak sayang banget untuk dilewatkan nih! Salah satu kedai kopi yang baru saja lanching bulan 1 Oktober 2018 yang lalu adalah Jagad Besemah coffee shop. Kedai kopi ini membuka soft-launching bertepatan pada Hari Kopi dan memilih desain perpaduan klasik-kekinian. Kedai ini buka di Jalan R. Soeprapto, dekat Terminal Nendagung dan berjarak 500 meter dari MAN 1 Pagaralam. Lebih mudah lagi cari aja dekat dengan Alun-alun Selatan Kota Pagaralam. Menurut pemilik kedai kopi ini, alasan mendirikan dan membuka coffee shop sebab hobi ngopi! Yaps, sambil ngopi siapa tau bisa jadi tempat kumpul / hangout bareng jeme jagad besemah yang menjadi ciri khas kedai kopi khas Besemah.
Foto 3. Pesenan penulis, enak nih!

Ajak teman-teman, gebetan atau keluarga tersayang untuk menyeduh berbagai varian rasa kopi, seperti latte, cappucino, espresso, kopi O dan yang lainnya disini. Buka mulai pukul 10 pagi hingga 10 malam setiap hari kecuali hari Jum'at. Teman minum kopi bisa roti bakar, kentang goreng, mie goreng, mie kuah/mie rebus atau nasi goreng. Waktu penulis kesini sore hari sudah buka dan ada pengunjung dari kalangan anak muda yang ngopi sambil nongkrong ama temen-temennya. Untuk harga jangan khawatir ya guys, terjangkau dan beda jauh dengan harga jual kopi di kedai-kedai kopi di Palembang. Penulis icip green matcha kesini karena lagi belum mau ngopi dan lagi menghindari rasa asam di perut. Maklum lagi traveling jauh dari rumah, ga siap buat begadang hehehe. Soalnya harus istirahat yang cukup untuk perjalanan esok harinya.
Foto 4. Suasana Jagad Besemah di sore hari, dokumentasi penulis 2019

Foto 5. Suasana Jagad Besemah di sore hari dari sudut lain, dokumentasi penulis 2019

Selain bisa menyeduh kopi hangat atau es, anda juga bisa membeli dan membawa pulang kopi bubuk Pagaralam yang kualitasnya sudah teruji dan dijamin halal. Cus langsung tanyain aja ke barista atau owner nya :)

More info about Jagad Besemah Coffee Shop
Instagram : @jagadbesemah
Facebook : Radial JbKopi
Whatsapp : +62812 7126 4084
#jagadbesemah

Minggu, 09 Desember 2018

Keindahan yang Tersembunyi di 3 Pulau [END]


Pagi harinya kami mengadakan solat subuh berjama’ah. Kemudian berkumpul untuk meregangkan otot dan badan agar lebih sehat. Kami melakukan senam bersama diatas pasir pantai yang lembut sehingga kami tak satupun memakai sandal. Hehe. Lanjut, kami mandi dan sarapan pagi. Selanjutnya beres-beres barang dan merapihkan tenda. Kami akan berangkat ke tujuan berikutnya. Terdapat 2 pulau yang sangat sayang dilewatkan jika sudah ke Pulau Nangka. Pulau Pelepas dan Pulau Begadung adalah 2 pulau kecil tak berpenghuni yang berdekatan dengan Pulau Nangka. Cukup mengendarai perahu sekitar 15 menit menuju Pulau Pelepas.
Pict 9. Perahu kami berlabuh anggun di Pulau Pelepas
Pulau ini terdapat mercusuar yang menjulang tinggi. Terdapat diatas bukit ditengah Pulau Pelepas. Mercusuar ini dibangun pada masa Belanda menjajah Indonesia dan digunakan untuk memberi tanda ke kapal laut. Kondisi mercusuar ini bercat putih dan memiliki ketinggian kurang lebih 15 meter. Sayang, kita tak bisa masuk kedalam mercusuar dan menaikinya karena terkunci. Mercusuar ini sepertinya sudah lama tidak diurus dan ditinggalkan, terlihat dari banyak rumput dan kondisi penginapan disekelilingnya, kotor dan berdebu. Sungguh disayangkan. Mungkin kegunaan mercusuar ini tidak lagi dimanfaatkan sehingga mercusuar ini terabaikan. Tapi tak mengapa. Mungkin kehadiran kami yang berkunjung sebentar dapat mengobat rasa kesepian mercusuar ini kali ye. Hehehe.
Pict 10. Mercusuar Pulau Pelepas

Setelah mengambil beberapa foto dan video, kami turun lagi ke bawah, ke pantai tempat kami mendaratkan perahu. Kemudian kami berangkat menuju pulau sebelahnya, yaitu Pulau Begadung. Pulau ini tidak terlalu besar seperti Pulau Pelepas. Kami hanya mampir sebentar untuk berfoto karena kami khawatir. Kenapa? Yaaa, ombak akan semakin tinggi jika kami kembali ke pelabuhan tanjung pura sudah mendekati magrib. Sekitar 15-30 menit kami mengunjungi pulau ini. Kemudian kami bergegas menaiki perahu yang kami sewa dan bergerak menuju Pelabuhan Tanjung Pura.

Dengan sigap, Bapak Pengemudi Nelayan melepas tali pengikat perahu, perahu berbelok dan berlayar menelusuri lautan. Dibawah sinar matahari sore hari, ikan-ikan berenang dan burung-burung laut berterbangan. Aku bersyukur masih diberikan umur oleh Allah untuk menikmati pemandangan langka yang ku temui di kota. Byur... Ombak menyapu perahu, makin lama makin kencang. Teman-temanku yang duduk di bagian depan bajunya setengah basah. Aku duduk dibagian samping. Sekitar 30 menit terombang ambing di lautan, kami tiba di pelabuhan. Sayang, air sedang pasang dan turun hujan, tinggi sekali sehingga perahu tidak bisa benar-benar mendekati bibir pantai. Kami dengan terpaksa menyeburkan diri, membasahi setengah badan dengan air laut yang berwarna coklat karena lumpur. Hehehe. Pakaian kami basah. Sambil menenteng tas masing-masing, kami berjalan menuju warung di pelabuhan, meletakkan tas dan membersihkan diri di MCK dekat pelabuhan dengan sumur yang besar. Alhamdulillah kamar mandinya bersih dan terawat, juga gratis! Kemudian beberapa orang dari kami memesan mie kuah dan pempek di warung, mengisi perut yang kelaparan. 
Pict 11. Selfie di perahu :D

Hari masih hujan, ketika dua orang dari rombongan mengatakan tidak bisa menemukan tas ranselnya di perahu. Oh No! Bagaimana ini? Sudah dicari-cari di pelabuhan tapi tidak ketemu. Mungkin terbawa di perahu yang sudah kembali ke Pulau Nangka lagi. Bang Junai dan Pak Kadus menelepon Bapak Pengemudi Kapal tetapi tidak dapat dihubungi, terkendala sinyal di laut. Ya, dengan sedih, teman kami kembali ke Desa Dalil tanpa tasnya.
Hujan masih turun ketika hari sudah menunjukkan pukul empat sore, kami menaiki mobil yang diparkir di pelabuhan. Kali ini aku naik mobil pick-up dengan rombongan cewek. Walau hujan rintik-rintik masih mengguyur, kami tetap jalan sambil mengobrol dan ketawa-ketawa. Terpal, kardus, jaket kami gunakan untuk menutupi pakaian kami yang basah. Seru sekali! Lalu tak terasa, mobil sampai di rumah Diar, dekat lapangan bola Desa Dalil. Kami berpisah disana, saya dan Caul menumpang mobil Bang Joni sampai depan jalan rumah Caul. Kurang lebih 15 menit sebelum magrib kami tiba dirumah. Bapak lagi duduk di kursi meja makan sambil mendengarkan berita tentang gempa Palu dan Donggala yang berkekuatan besar.
Dari perjalanan ini, aku banyak belajar tentang alam. Menghargai laut dan menghormati isi hutan di 3 pulau yang kami datangi. Untuk tidak merusak, tidak membunuh hewan langka dan terlarang. Untuk senantiasa menjaga kearifan lokal, bercakap ramah dan hangat pada penduduk lokal. Untuk membuka wawasan baru terhadap daerah yang kami kunjungi. Untuk bersahabat dengan siapapun, berteman dengan yang muda maupun tua. Untuk mengenal kehidupan orang lain, memahami perasaan mereka dan tidak menyakiti hati orang-orang yang jauh dari kemajuan teknologi. Untuk makan bersama dengan lebih rapih dan senantiasa berbagi. Untuk menjaga lingkungan yang kami datangi supaya tetap bersih. Untuk bersama-sama membangun kekeluargaan yang tercipta baik dengan kawan baru atau masyakarat terpencil. Untuk mendukung pariwisata Indonesia agar lebih dikenal banyak orang. Untuk menyiapkan segala sesuatu sebelum berpergian bersama-sama dan membereskannya lagi bersama-sama. Seperti kalimat bijak yang mengatakan, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Untuk merawat keindahan Allah yang telah diciptakan agar tetap bisa dinikmati oleh orang lain. 
Pict 12. Foto Bersama Rombongan Karang Taruna Desa Dalil, Bapak Kadus Baru dan Kadus Lama
Special Thanks To :
Kedua Orang Tua angkatku di Desa Dalil yang selalu menganggapku anaknya sendiri, dikasih makan, dikasih tempat tidur nyaman, diceritakan segala hal. Caul alias Naura Rasaty Ungu, anak ibu bapak. Bang Junai yang selalu ngajak pergi main. Pak Kadus Pulau Nangka yang telah memfasilitasi kami. Karang Taruna Desa Dalil yang sudah berteman baik denganku, Kiki, Bang Ayeng, Puy, Lola, dll. Bang Alvin atas foto cantik dan kendaraan roda empatnya. Bang Joni atas mobil pick-up nya. Diar, jago masakm ngelucu dan rame. Nurul Rita Ramadhani, kawan baru yang kerja di Bank Sumsel Babel Syariah yang ramah, cantik dan baik hati. 
Bonus Foto: Temen w namanya Nurul
Bonus Foto: Sebelum berangkat
Bonus Foto: Depan gerbang pelabuhan

Kamis, 01 November 2018

Keindahan yang Tersembunyi di 3 Pulau [PART 2]


Tenda-tenda untuk bermalam segera didirikan. Ada anak-anak berjalan mengikuti kami ke pantai sambil membawa bola. Perkakas dapur dikeluarkan dan api dinyalakan. Terpal dibentangkan dan bersiap solat zuhur. Lalu perbekalan dikeluarkan dan santap siang bersama. Menunya nasi kuning, sambel, acar dan telor. Pencuci mulutnya semangka.
Setelah itu, saya dan teman-teman wanita yang lain menggoreng pempek untuk cemilan siang sambil mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan teman lain. Ini terniat sumpah! Mereka sampe bawa speaker gede buat nyanyi loh! Totalitas banget kan. Teman yang lain memasang hammock untuk tidur dan membersihkan sampah makanan.
Pict 5. Hammock yang sudah terpasang dan salah satu guide kita
Sore hari kami berjalan menuju “Batu Belawang” yang dalam bahasa Indonesia Batu Berpintu. Disebut demikian karena batu tersebut berlubang sehingga seperti pintu untuk masuk ruangan di sebelahnya. Ditemani Bapak Kadus yang baik hati kami berjalan lagi membelah pulau menuju lokasi Batu Belawang berada. Walau panas menyengat tetapi tidak menyurutkan semangat kami. Batu ini berada di tepi pantai dan banyak anak pohon bakau didekatnya.
Pict 6. Batu Belawang berwarna merah bata terdapat di sisi pantai Pulau Nangka
Setelah puas berfoto dan selfie ria, maka kami segera kembali menuju lokasi camp. Namun berhubung kami bertemu nelayan yang baru pulang dari melaut dan membawa hasil tangkapan, kami membeli ikan segar, kepiting dan kerang untuk perbekalan besok. Sampai di pantai lagi, teman-teman yang tidak ikut ke Batu Belawang sudah memanggang ayam bakar dan sate ayam yang enak untuk malam. Maknyussss!
Pict 7. Memanggang sate ayam
Senja akan berakhir, matahari akan terbenam. Subhanallah! Makhluk manapun pasti akan takjub dengan keindahan alam yang luar biasa ini. Menit-menit terakhir saat sang surya ‘kan pergi. Aku bersyukur sekali dapat menikmati pemandangan yang indah ini bersama teman-temanku yang baik dan ramah ini. Tak lupa ku abadikan momen yang akan ku tunjukkan kepada semua orang bahwa memandang sunset itu sangat indah.
Pict 8. Sunset di Pulau Nangka yang sangat sayang dilewatkan

Malam hari kami menggelar hidangan makan malam dan berkumpul membentuk lingkaran seperti makan liwetan. Bedanya ini bukan nasi liwet tapi nasi dengan ayam bakar dan lempah kepiting dengan mak dapur, Diar. Diar ini sebenarnya laki-laki, friends. Tapi dia jago sekali masak-memasak. Makanannya sedap dan pandai mengolah bumbu dapur sehingga dipanggil Mak Dapur. Hehe.
Setelah makan malam bersama, kami mengadakan diskusi dan bincang-bincang terkait Pulau Nangka ini. Asal-usul dinamakan Pulau Nangka. Mitos dan sejarah para penghuni terdahulu Pulau Nangka. Keterkaitan dan dukungan pemerintah dalam memajukan daerah ini dan tanya jawab seputar organisasi yang berjalan di Karang Taruna Desa Dalil. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan lagi-lagi Mak Diar membuat suasana jadi hangat karena mengajak bermain games. Kami berjoget dan bersenang-senang sampai perut kami sakit karena tertawa. Setelah itu, kami kembali ke tenda atau hammock masing-masing dan tertidur.